Trans Kie Raha atau Trans “SEKOBU”
Views: 24
Oleh :AAHODA
Akhiir-akhir ini perbincangan proyek infrastruktur besar yang diprakarsai oleh Pemerintah Provinsi Maluku Utara lewat Gubernurnya Sherly, menjadi perhatian dan perbincangan yang penuh kontroversi. Jalan Trans Kieraha ini dirancang menghubungkan ibu kota provinsi Sofifi dengan wilayah Halmahera Tengah (Kobe) dan Halmahera Timur. Hal ini dianggap sangat strategis karena selama ini akses transportasi darat dan udara di Sofifi terbatas.
Di awal-awal perbincangan disebutkan proyek infrastruktur ini dengan nama Trans Kie Raha dalam ranah pikir secara personal, bahwa akan dibangun sebuah infrastruktur moda transportasi yang menghubungkan empat pulau yaitu Ternate, Tidore, Bacan dan Jailolo (pulau-pulau yang memaknai arti Kie Raha). Sehiingga terpikir oleh saya akan dibangun Dermaga-dermaga representatif dan penyediaan armada yang memadai dan mumpuni untuk menghubungkan empat pulau ini, baik pergerakan orangnya secara aman dan nyaman, maupun pergerakan arus barang yang cepat dan tepat. Dengan konektivitas yang lebih baik, mobilitas orang dan barang antarwilayah bisa jauh lebih cepat dan efisien — membantu mengatasi isolasi geografis, terutama antara pusat pemerintahan, pusat ekonomi, dan daerah pedalaman/pesisir.
Namun lain nama, lain perbuatan. Nama trans Kie Raha, tapi sebenarnya yang dibangun adalah bagian dari trans Halmahera,-yaitu menghubungkan Sofifi sebagai Ibu Kota Provinsi-Ekor-Kobe yang berada di Kabupaten Halmahera Tengah dan Buli di Halmahera Timur, kenapa tidak sebut saja Trans SEKOBU (Sofifi-Ekor-Kobe-Buli).
Kritik menyebut bahwa fokus pada pembangunan jalan darat antar-daratan bisa “diskriminatif” dalam konteks provinsi yang sebagian besar terdiri dari pulau: jalan darat mungkin tidak relevan bagi banyak kabupaten/pulau kecil. Dengan demikian, proyek besar ini belum tentu menjawab persoalan mendasar sebagian besar masyarakat di daerah kepulauan — misalnya kebutuhan dermaga, pelabuhan, transportasi laut, akses ke pendidikan/layanan dasar, dll.
Pemerintah Provinsi Maluku Utara menamakan proyek Trans Kie Raha untuk memberi identitas lokal yang kuat dan menyoroti prioritas mereka pada ruas penghubung Ibu Kota Sofifi ke Kabupaten Halteng dan Haltim, namun penggunaan Kie Raha harus ditinjau lagi karena dampak “diskriminatif” akan luas. Pulau Bacan akan menuntut dermaga yang representatif dengan armada-armada laut untuk konektivitas ke beberapa kecamatan di Halmahera Selatan. Jailolo akan menuntu pelabuhan feri, yang sampai saat ini hanya wacana saja. Dan masih banyak lagi wilayah pesisir di Maluku Utara yang masih terisolir.
Saat melihat proyek ini secara objektif, wajar ada optimisme bahwa Trans SEKOBU bisa menjadi tulang punggung bagi kemajuan ekonomi dan infrastruktur di Halmahera / Maluku Utara. Namun beberapa hal yang perlu jadi perhatian serius bahwa Perlu transparansi penuh soal dokumen legal: FS, Amdal, izin pembebasan lahan, serta konsultasi publik — agar masyarakat lokal, termasuk komunitas adat atau yang tinggal dekat hutan, bisa ikut menentukan. Perlu adanya evaluasi dampak lingkungan secara jangka panjang — bukan hanya dari sudut pandang ekonomi, tetapi juga ekologi, kelestarian hutan, biodiversitas, dan hak komunitas lokal, dan yang terakhir adalah seimbangkan pembangunan darat dengan kebutuhan khas provinsi kepulauan seperti pembangunan pelabuhan, dermaga, transportasi laut — agar semua daerah, termasuk pulau-pulau kecil, tidak tertinggal.
Marilah kita gunakan nama yang tepat untuk perbuatan yang tepat. Trans Kie Raha menjadi Trans Sofifi-Ekor-Kobe dan Buli menjadi Trans SEKOBU,.Ada yang mengatakan apalah arti sebuah nama, namun bagi saya nama adalah warisan pertama dan penanda identitas paling mendasar seseorang, sebuah tempat, atau sebuah proyek. Nama berfungsi sebagai “label” yang unik yang membedakan satu entitas dari entitas lainnya. Tanpa nama, individu hanyalah bagian anonim dari keramaian.
Jadi penamaan sesuatu itu sangat memengaruhi bagaimana sesuatu itu dipersepsikan oleh orang lain dan bagaimana mereka memandang diri sendiri. Jadi, untuk menjawab ungkapan “Apalah arti sebuah nama,” jawabannya adalah: Arti sebuah nama adalah segalanya, karena ia membawa nilai, doa, reputasi, dan identitas yang akan menemani entitas tersebut seumur hidupnya.
