Dr. Wildan dan Sunyi yang Mengajarkan Makna

Dr. Wildan dan Sunyi yang Mengajarkan Makna

Views: 196

Oleh: AAHoda

Ada kabar yang datang tanpa suara, tetapi menghentak batin begitu dalam. Kabar itu adalah tentang Dr. Wildan—rekan, sahabat, sekaligus seorang dosen Fakultas Ilmu Budaya dan Sastra Unkhair—yang mengalami kecelakaan di laut dan hingga hari ini belum ditemukan. Laut, yang selama ini menjadi jalur kehidupan dan penghubung antarpulau, tiba-tiba menjelma menjadi ruang sunyi yang menyimpan tanya.

Dr. Wildan bukan tipe manusia yang gemar menonjolkan diri. Ia hadir dengan cara yang sederhana, bahkan nyaris tak terasa. Low profil, tenang, dan bersahaja—itulah kesan pertama yang selalu melekat. Namun justru dari kesederhanaan itulah terpancar kedalaman. Ia tidak banyak bicara tentang dirinya, tetapi banyak memberi ruang bagi orang lain untuk didengar.

Sebagai dosen Ilmu Budaya dan Sastra, Dr. Wildan memahami bahwa kata bukan sekadar rangkaian huruf, melainkan jembatan makna. Ia mengajarkan sastra bukan hanya sebagai teks, tetapi sebagai cermin kehidupan: tentang manusia, luka, harapan, dan kemanusiaan. Di ruang kelas, ia tidak berdiri sebagai sosok yang berjarak, melainkan sebagai sahabat berpikir—mengajak mahasiswa berdialog, bukan sekadar menerima.

Bagi kami yang mengenalnya lebih dekat, Dr. Wildan adalah sahabat yang hangat. Ia hadir dalam obrolan sederhana, tawa ringan, dan diskusi yang sering berujung pada perenungan. Ia tidak menciptakan hirarki dalam persahabatan; semua setara, semua manusia. Mungkin karena itu kepergiannya terasa begitu dekat, seolah sebagian dari diri kami ikut hanyut bersama gelombang.

Kini, ketika jasadnya belum ditemukan, yang tersisa adalah doa dan ingatan. Ingatan tentang kebaikan yang tidak pernah dipamerkan, tentang ketulusan yang tidak pernah diminta untuk dikenang. Laut boleh saja menyimpan raganya, tetapi nilai dan keteladanannya telah berlabuh di hati banyak orang.

Dalam tradisi budaya kita, orang yang hidupnya memberi makna tidak pernah benar-benar pergi. Mereka menjelma menjadi cerita, menjadi nilai, menjadi inspirasi yang terus hidup. Dr. Wildan mungkin belum kembali secara fisik, tetapi kehadirannya tetap menyertai kita—dalam kata, dalam kenangan, dan dalam doa yang tak putus dipanjatkan.

Dr. Wildan pernah menulis tentang perjalanan. Tentang seorang ayah, sebuah perahu, dan laut yang tampak tenang namun menyimpan arus mematikan. Puisinya berjudul Menuju ke Pulau. Hari ini, puisi itu tidak lagi sekadar karya sastra. Ia menjelma menjadi cermin yang memantulkan kenyataan pahit yang sedang kami hadapi.

Dalam puisinya, laut bukan sekadar bentang alam. Ia adalah ruang perjuangan. Tempat harapan dan risiko bertemu tanpa kompromi. “Air tenang, tapi arusnya berombak mematikan,” tulisnya—seolah Dr. Wildan sedang berbicara tentang hidup itu sendiri: bahwa yang paling berbahaya sering kali hadir tanpa suara.

Dalam Menuju ke Pulau, ada kegelisahan seorang ayah yang tak membawa oleh-oleh makanan, tetapi berharap membawa “bingkisan kecil” yang memberi cahaya. Mungkin itulah Dr. Wildan. Ia tidak menjanjikan kemewahan, tetapi meninggalkan terang. Tidak mengenyangkan secara materi, tetapi menghidupkan batin banyak orang—mahasiswa, sahabat, dan siapa pun yang pernah duduk bersamanya dalam percakapan sederhana.

Kini, ketika ia mengalami kecelakaan di laut dan belum ditemukan, kami seperti berada di halaman terakhir puisi yang belum selesai. Tubuhnya mungkin masih dalam pencarian, tetapi maknanya sudah sampai. Ia telah mengirimkan oleh-oleh terbaiknya: keteladanan, kesahajaan, dan keberanian menjalani perjalanan yang “tidak tahu apa artinya luka”.

Ada orang-orang yang kepergiannya bising dan cepat dilupakan. Tetapi ada pula yang kepergiannya sunyi, justru karena semasa hidupnya ia terlalu tulus untuk meninggalkan kesan palsu. Dr. Wildan adalah yang kedua. Ia pergi dengan cara yang senyap, sebagaimana ia hidup—namun meninggalkan gelombang yang lama reda.

Jika suatu hari nanti pencarian ini menemukan jawaban apa pun, kami berharap bisa menerimanya dengan lapang. Sebab seperti yang diajarkannya lewat puisi: kita tidak selalu memilih perjalanan, tetapi kita selalu bisa memilih cara menjalaninya. Dan Dr. Wildan telah menjalani hidupnya dengan utuh—sebagai manusia, sahabat, dan penyair yang jujur.

Laut mungkin menahan raganya. Tetapi puisinya sudah lebih dulu sampai ke pulau tujuan: hati kita semua.

Di tengah penantian yang masih berlangsung, kami hanya bisa menundukkan kepala dan menitipkan doa. Semoga Tuhan Yang Maha Pengasih menjaga Dr. Wildan dalam kasih-Nya—di mana pun ia kini berada. Jika takdir mempertemukan kami kembali, semoga itu dalam pelukan keutuhan. Sebab doa adalah satu-satunya perahu yang tak pernah karam, mengantar harapan kami menuju pulau keabadian.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *