Memorial untuk Sahabat:  Topi yang Lebih Dulu Pulang

Memorial untuk Sahabat:  Topi yang Lebih Dulu Pulang

Views: 51

Oleh: AAHODA

Di hadapan laut, manusia belajar tentang batas. Batas kekuatan, batas pengetahuan, dan batas keangkuhan. Di hari ketujuh pencarian Dr. Wildan Mattara, laut Teluk Bibinoi mengajarkan pelajaran itu dengan caranya yang paling sunyi.

Tak ada badai. Tak ada amarah alam. Hanya hamparan air yang tenang—dan justru di sanalah kegelisahan berdiam paling lama. Sebab ketenangan laut sering kali menipu, menyembunyikan kenyataan bahwa di bawahnya ada rahasia yang tidak selalu diizinkan untuk dibuka manusia.

Dr. Wildan adalah seorang dosen, seorang pencari makna. Hidupnya dihabiskan untuk membaca teks, menelusuri sejarah, dan mendengarkan kisah masyarakat pesisir. Ia memahami bahwa pengetahuan tidak selalu lahir dari suara yang lantang, melainkan dari kesediaan untuk diam dan menyimak. Barangkali karena itu pula, kepergiannya pun disertai diam yang panjang.

Dalam pencarian yang melelahkan itu, dua anaknya berdiri bersama tim SAR. Mereka tidak hanya mencari ayahnya, tetapi juga mencari jawaban: mengapa orang baik harus pergi dengan cara seperti ini? Mengapa laut yang selama ini diceritakan ayahnya sebagai ruang kehidupan, justru menjadi tempat perpisahan?

Namun laut tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya mengembalikan sebuah topi rimba berwarna biru jeans. Topi itu sederhana. Tak bernilai materi. Namun di sanalah seluruh kerinduan terkumpul.

Topi itu adalah saksi perjalanan—menyerap panas matahari, menahan keringat, menemani langkah seorang ayah, seorang suami, seorang pendidik. Ketika tubuh Dr. Wildan tidak ditemukan, topi itu seakan berkata: aku pernah berada di kepalanya, aku tahu ia di sini. Dalam iman manusia, tanda sekecil apa pun sering kali menjadi jembatan antara putus asa dan harapan.

Bagi keluarga, topi itu bukan sekadar barang. Ia adalah pesan yang lebih dahulu pulang. Ia adalah cara Tuhan mengajarkan bahwa kepulangan tidak selalu berupa jasad. Kadang, yang dikembalikan hanyalah isyarat—cukup untuk membuat manusia menangis, berlutut, dan akhirnya berserah.

Ketika Syadzali Andi Mattara menapakkan kaki di lumpur bakau dan menangis, itu bukan sekadar tangis kehilangan. Itu adalah doa yang pecah, doa yang tidak selesai dirangkai dalam kata.
“Ayah pulang sudah, cukup ayah.”

Kalimat itu bukan keputusasaan. Itu adalah kepasrahan paling jujur yang bisa diucapkan manusia ketika berhadapan dengan kehendak Tuhan. Sebuah pengakuan bahwa ada batas yang tidak boleh dilampaui, bahkan oleh cinta seorang anak.

Dalam perspektif spiritual, kehilangan mengajarkan manusia untuk merelakan tanpa harus melupakan. Dr. Wildan mungkin belum kembali dalam raga, tetapi nilai hidupnya telah lebih dulu menetap: dalam ingatan mahasiswa, dalam riset yang ditinggalkannya, dalam anak-anak yang kini belajar tentang keteguhan melalui peristiwa paling pahit dalam hidup mereka.

Hari ketujuh pencarian adalah batas SOP. Namun dalam iman, pencarian tidak pernah benar-benar selesai. Ia berpindah bentuk—dari laut ke hati, dari perahu ke doa, dari penyisiran fisik ke perenungan batin. Bahwa hidup adalah titipan, bahwa manusia hanyalah musafir, dan bahwa kepulangan sejati tidak selalu mengikuti jadwal manusia.

Topi rimba biru jeans itu kini menjadi simbol kecil tentang makna besar. Bahwa ketika Tuhan belum mengizinkan tubuh kembali, Ia tetap mengirim tanda agar manusia belajar ikhlas. Bahwa dalam kehilangan, iman diuji bukan untuk runtuh, melainkan untuk bertumbuh.

Dr. Wildan mengajarkan sastra dan budaya sepanjang hidupnya. Dalam kepergiannya, ia mengajarkan sesuatu yang lebih dalam: tentang diam, tentang menerima, dan tentang percaya—bahwa tidak ada satu pun perjalanan yang benar-benar sia-sia di hadapan Tuhan.

Pada akhirnya, iman mengajarkan manusia satu hal yang paling sulit: menerima bahwa Allah SWT tidak selalu menjawab doa dengan cara yang kita harapkan. Ada doa yang dijawab dengan perjumpaan, ada yang dijawab dengan kesembuhan, dan ada pula yang dijawab dengan sunyi yang panjang. Sunyi itulah yang kini menyelimuti Teluk Bibinoi.

Dalam teologi kehidupan, kehilangan bukanlah tanda ketiadaan Tuhan, melainkan cara Tuhan menyatakan kehadiran-Nya dengan bahasa yang tidak semua orang sanggup pahami. Tubuh Dr. Wildan belum kembali, tetapi tanda telah lebih dulu diberikan. Sebuah topi rimba biru jeans—kecil, sederhana, namun sarat makna—menjadi pengingat bahwa Allah SWT tidak pernah benar-benar meninggalkan umat-Nya tanpa pesan.

Manusia sering meminta kepastian, sementara Tuhan kerap memberi pelajaran. Manusia menginginkan kepulangan yang utuh, sementara Tuhan mengajarkan bahwa yang paling utuh bukanlah raga, melainkan kepasrahan. Ketika Syadzali berkata, “Ayah pulang sudah, cukup ayah,” di sanalah iman bekerja paling jujur: bukan dalam jawaban, tetapi dalam keikhlasan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *