Yayasan Amati Indonesia Gandeng STPK Banau Lakukan Workshop Program Pangan untuk Perempuan

Yayasan Amati Indonesia Gandeng STPK Banau Lakukan Workshop Program Pangan untuk Perempuan

Views: 54

Goal, HN,- Untuk mendukung ketahanan dan kedaulatan pangan di Maluku Utara, Yayasan Amati Indonesia menggandeng STPK Banau Halbar laksanakan workshop program “Kebun Mama” selama 4 hari (4-7 Februari 2026) di Kampus STPK Banau jalan Trans Goal Kecamatan Sahu Timur.

Kegiatan ini didukung oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) bersama Pemerintah Provinsi Maluku Utara mengusung tema Menanam Harapan, Menyajikan Gizi, Menghidupkan Komunitas ini diikuti oleh  Kelompok Tani Perempuan dari Halmahera Barat, Kota Tidore Kepulauan dan Kota Ternate telah dibuka secara resmi oleh Kepala DP3A Provinsi Maluku Utara, Dra. Hairiah, M.Si.

Saat memberikan sambutan,  Kepala DP3A Malut berharap hendaknya para petani perempuan dari berbagai komunitas atau kelompok yang ada dan terlibat sebagai peserta dapat memanfaatkan momen ini dengan baik, agar nantinya di saat yang tepat sudah dapat melihat hasil jerih payah yang ibu – ibu telah lakukan dan praktek langsung sesuai apa yang diajarkan dalam 4 (empat) hari ke depan ini.

“Melalui forum ini pula, saya berharap agar keberhasilan dari ibu – ibu sebagai petani perempuan  dapat terwujud dan partisipasi ibu – ibu sekalian dalam mendorong ketahanan pangan nasional dapat berhasil dilaksanakan” harap Hairiah.

Lebih jauh disampaikannya bahwa Workshop ketahanan pangan bagi petani perempuan sangat penting karena dengan adanya workshop ini petani perempuan dapat meningkatkan pengetahuan, membantu petani perempuan memahami cara  meningkatkan produksi pangan, pengolahan, dan pemasaran hasil pertanian. Selain itu juga,  workshop ini dapat meningkatkan keterampilan  praktis dalam  mengelola kebun, mengolah hasil pertanian, dan  mengelola keuangan sehingga itu semua akan meningkatkan kemandirian, membantu petani perempuan menjadi lebih  mandiri dalam mengelola usaha pertanian dan meningkatkan pendapatan keluarga.

Menurut Hairiah bahwa saat ini jumlah petani perempuan di Indonesia sebanyak 14, 8 juta per bulan februari 2025, sedangkan provinsi Maluku Utara sendiri memiliki jumlah 140,442 jiwa berdasarkan data BPS 2023, dengan adanya data ini menunjukkan adanya kontribusi signifikan perempuan dalam sektor pertanian di wilayah provinsi Maluku Utara. Peran petani perempuan sangat penting dalam ketahanan pangan nasional untuk meningkatkan kesejahtraan masyarakat, dengan adanya kebijakan pembangunan pertanian yang inklusif dan responsif gender dapat memperkuat ketahanan pangan yang adil dan berkelanjutan.

Sementara itu, Ketua STPK Banau Halbar, Dr.Ir.Abdurahman Hoda,M.Si dalam sambutannya menyambut baik dan menyampaikan selamat datang kepada seluruh peserta di Kampus STPK Banau, selama empat hari kedepan dan dapat memanfaatkan sarana berupa rusunawa untuk nginap tiga malam, sambil menikmati suasana pedalaman desa trans goal yang nyaman.

Untuk diketahui bahwa Yayasan Amati Indonesia sebelum melaksanakan workshop ini, telah melakukan survey selama tiga hari 29 -31 Januari 2026 di desa Golago Kusuma, Kecamatan Sahu Timur Halmahera Barat dan Desa Akekolano Kecamatan Oba Utara dan Desa Gorabunga Kota Tidore Kepulauan dan dua desa di Kota Ternate, yaitu Togafo dan Tobololo yang dilakukan langsung oleh “Project Leader” Program Kebun Mama, Viringga Kusuma.

Kepada awak media Viringga memaparkan bahwa Program Kebun Mama ini adalah sebuah proyek percontohan komprehensif dengan fokus pada ketahanan, keberlanjutan dan inklusivitas perempuan.

Beberapa hal yang menjadi pertimbangan “Amati Indonesia” menurut Viringga adalah yang pertama, Indonesia adalah negara dengan resiko bencana ke-3 tertinggi di dunia, kedua bahwa sembilanpuluh sembilan persen bencana di Indonesia adalah diakibatkan oleh cuaca. Ketiga, enam provinsi yang menjadi target dengan angka stunting di atas 20 persen yaitu, Aceh, Sumut, Sumbar, Malut, NTT dan Papua. Dan pertimbangan terakhir adalah “Time Poverty” beban kerja domestik yang tidak proporsional menyebabkan perempuan tidak memiliki waktu untuk kegiatan produktif, pendidikan, atau istirahat

“Provinsi Maluku Utara masih menghadapi tantangan kedaulatan pangan akibat ketergantungan pasokan dari luar daerah, iklim semi-arid, dan rendahnya teknologi pertanian. Memiliki angka stunting tinggi (23,70 SSGI 2024), penguatan sistem pangan lokal yang mandiri dan berkelanjutan menjadi kebutuhan mendesak untuk menanggulangi masalah-masalah tersebut” papar Viringga.

Sebagai bagian dari Jaring Hijau Nusantara (JHN) lanjutnya, “Kebun Mama menggerakkan kedaulatan pangan rumah tangga melalui pendekatan Asset-Based Community, pembangunan kebun terpadu, dapur komunitas & kolaborasi lintas pihak untuk kedaulatan pangan”, pungkas Viringga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *