Cahaya Ela-Ela Menjaga Jiwa Tradisi Ternate
Views: 18
Oleh : A.A.Hoda
Setiap kali malam ke-27 Ramadhan tiba, wajah Ternate berubah menjadi lautan cahaya. Lampu-lampu minyak, obor, dan lampion tradisional disusun rapi di halaman rumah, di sepanjang jalan kampung, hingga di pelataran masjid. Cahaya itu dikenal masyarakat sebagai Ela-Ela, sebuah tradisi yang telah lama hidup dalam denyut budaya masyarakat Ternate. Bagi orang luar, ia mungkin terlihat seperti festival lampu biasa. Namun bagi masyarakat Ternate, Ela-Ela adalah perpaduan antara iman, sejarah, dan identitas budaya.
Tradisi ini selalu dilaksanakan pada malam 27 Ramadhan, malam yang oleh umat Islam diyakini sebagai salah satu kemungkinan turunnya Lailatul Qadar—malam yang lebih mulia daripada seribu bulan. Karena itu, Ela-Ela tidak sekadar menjadi pesta cahaya, melainkan simbol harapan dan doa. Lampu-lampu yang dinyalakan seakan menjadi metafora spiritual: bahwa dalam perjalanan hidup, manusia selalu membutuhkan cahaya untuk menemukan jalan menuju Tuhan.
Jika ditarik ke belakang, akar tradisi Ela-Ela tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang Kesultanan Ternate. Pada masa kejayaan kesultanan, Ramadhan selalu dirayakan dengan penuh khidmat dan kemeriahan. Istana, kampung-kampung, dan masjid-masjid dihiasi dengan lampu minyak sebagai tanda kegembiraan menyambut malam-malam terakhir Ramadhan. Pada masa itu, penerangan masih terbatas; menyalakan lampu secara serentak bukan hanya soal estetika, tetapi juga cara menghadirkan suasana sakral di tengah kota yang menjadi pusat perdagangan rempah dunia.
Dalam tradisi lisan masyarakat Ternate, Ela-Ela juga dipahami sebagai bentuk penghormatan terhadap malam kemuliaan. Cahaya lampu menjadi simbol kesiapsiagaan spiritual masyarakat untuk menyambut Lailatul Qadar. Dengan kata lain, Ela-Ela adalah cara masyarakat mengekspresikan iman melalui bahasa budaya yang sederhana namun penuh makna.
Yang membuat tradisi ini tetap hidup hingga hari ini adalah sifatnya yang kolektif. Ela-Ela bukan perayaan yang dimonopoli oleh institusi tertentu, melainkan milik seluruh masyarakat. Anak-anak membantu menyiapkan lampu, para pemuda merancang dekorasi yang kreatif, sementara orang tua menjaga tradisi dan makna yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam proses inilah, Ela-Ela menjadi ruang pembelajaran sosial: tempat nilai agama, adat, dan kebersamaan diwariskan secara alami.
Di tengah kehidupan modern yang semakin individualistis, tradisi seperti Ela-Ela memiliki arti yang jauh lebih besar daripada sekadar festival tahunan. Ia adalah perekat sosial yang mengingatkan masyarakat bahwa identitas sebuah kota tidak hanya dibangun oleh gedung-gedung baru atau proyek pembangunan, tetapi juga oleh ingatan kolektif yang terus dirawat.
Namun di balik keindahannya, kita juga perlu melihat satu kenyataan yang perlahan muncul: kecenderungan komersialisasi tradisi. Dalam beberapa tahun terakhir, Ela-Ela mulai diperlakukan sebagai atraksi wisata semata. Kompetisi dekorasi, sponsor komersial, hingga orientasi pada penilaian estetika sering kali lebih menonjol daripada makna spiritual yang menjadi ruh tradisi ini.
Tentu tidak ada yang salah dengan menjadikan Ela-Ela sebagai daya tarik wisata budaya. Bahkan hal itu dapat memperkenalkan kekayaan tradisi Maluku Utara kepada dunia yang lebih luas. Namun yang perlu dijaga adalah keseimbangan antara perayaan budaya dan makna religiusnya. Jika tidak hati-hati, Ela-Ela berisiko kehilangan esensinya—berubah dari tradisi spiritual menjadi sekadar festival lampu yang meriah namun hampa makna.
Di sinilah pentingnya peran masyarakat, tokoh adat, tokoh agama, dan pemerintah daerah untuk menjaga ruh tradisi ini. Ela-Ela harus tetap menjadi ruang spiritual sekaligus ruang budaya. Ia harus tetap lahir dari partisipasi masyarakat, bukan semata-mata dari panggung acara yang diatur secara seremonial.
Karena sejatinya, kekuatan Ela-Ela terletak pada kesederhanaannya. Pada lampu-lampu kecil yang dinyalakan di depan rumah, pada anak-anak yang berjalan menyusuri kampung dengan penuh kegembiraan, dan pada suasana religius yang menyelimuti kota di malam-malam terakhir Ramadhan. Di situlah tradisi ini menemukan maknanya: sebagai cahaya yang menerangi bukan hanya jalan-jalan kota, tetapi juga hati masyarakatnya.
Ketika ribuan lampu Ela-Ela menyala di malam 27 Ramadhan, kita sedang menyaksikan lebih dari sekadar tradisi. Kita sedang melihat bagaimana iman, sejarah, dan budaya saling bertemu dalam satu peristiwa yang sederhana namun penuh makna. Selama cahaya Ela-Ela terus dinyalakan oleh masyarakat Ternate, selama itu pula ingatan sejarah dan nilai-nilai spiritual kota ini akan tetap hidup—menerangi perjalanan generasi yang akan datang.
Pada akhirnya, Ela-Ela bukan sekadar tradisi menyalakan lampu di malam 27 Ramadhan. Ia adalah cahaya ingatan kolektif masyarakat Ternate tentang bagaimana iman, adat, dan sejarah pernah berjalan beriringan dalam kehidupan sehari-hari. Di tengah gemerlap lampu listrik dan hiruk-pikuk modernitas, cahaya kecil Ela-Ela mengingatkan kita pada sesuatu yang lebih dalam: bahwa sebuah peradaban tidak hanya ditopang oleh kemajuan material, tetapi juga oleh kesetiaan masyarakatnya dalam merawat nilai-nilai spiritual dan budaya yang diwariskan leluhur sejak masa Kesultanan Ternate. Karena itu, menjaga Ela-Ela berarti menjaga jati diri. Dan selama cahaya-cahaya kecil itu masih dinyalakan dengan niat yang tulus di halaman-halaman rumah masyarakat, selama itu pula kita dapat percaya bahwa tradisi, iman, dan kebersamaan akan tetap menjadi pelita yang menuntun masa depan Maluku Utara
