Pemerintah Targetkan Pertumbuhan 5,5–6% di Kuartal I
Views: 1
Jakarta, HN,- Menteri Keuangan RI, Purbaya Yudhi Sadewo, memproyeksikan percepatan belanja di awal tahun dapat mendorong pertumbuhan ekonomi kuartal I 2026 ke kisaran 5,5–6% YoY, lebih tinggi dibandingkan realisasi kuartal IV 2025 sebesar 5,39% YoY.
Hal ini disampaikan Purbaya saat konferensi Pers “APBN Kita Kinerja dan Fakta” di Jakarta Senin (23/2/2026) yang diikuti sejumlah awak media lokal dan nasional.
Menurutnya bahwa percepatan ini sejalan dengan strategi optimalisasi anggaran agar belanja pemerintah lebih merata sepanjang tahun dan tidak menumpuk pada akhir tahun anggaran.
Namun demikian, realisasi defisit Januari kembali menyoroti potensi pelebaran defisit fiskal. Direktur Jenderal di Kementerian Keuangan, Febrio Kacaribu, menegaskan bahwa pemerintah tetap berkomitmen menjaga defisit fiskal di bawah batas 3% terhadap PDB.
Di sisi lain, belanja negara mencapai Rp227,3 triliun hingga akhir Januari 2026, naik 25,7% YoY. Nominal ini menjadi belanja Januari tertinggi setidaknya sejak 2019. Kementerian Keuangan menyatakan percepatan belanja diarahkan untuk mendukung program prioritas pemerintah, menjaga daya beli masyarakat, serta mendorong pertumbuhan ekonomi pada kuartal I 2026.
Peningkatan belanja terutama terjadi pada belanja kementerian/lembaga, termasuk realisasi Program Makan Bergizi gratis yang mencapai Rp19,5 triliun, jauh lebih tinggi dibandingkan Januari 2025 yang hanya Rp45,2 miliar.
Dalam publikasi Indonesia Economic Outlok 2026 pertengahan Februari, pemerintah memperkirakan belanja negara mencapai Rp809 triliun pada kuartal I 2026. Dengan demikian, realisasi Januari setara sekitar 28% dari estimasi tersebut.
Pendapatan negara hingga Januari 2026 tercatat Rp172,7 triliun atau tumbuh 9,5% secara tahunan (year-on-year/YoY). Kenaikan ini terutama ditopang oleh penerimaan pajak yang meningkat signifikan.
Secara neto, penerimaan pajak tumbuh 30,7% YoY, didorong oleh pertumbuhan pajak bruto sebesar 7% YoY dan kontraksi restitusi sebesar 23% YoY. Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) menjadi kontributor utama dengan pertumbuhan 7,7% YoY.
Penurunan restitusi terutama berasal dari sektor perdagangan, sehingga menopang peningkatan penerimaan pajak secara keseluruhan.
Secara keseluruhan, menurut purbaya, realisasi APBN Januari 2026 menunjukkan strategi fiskal ekspansif di awal tahun untuk menopang pertumbuhan ekonomi. Namun, akselerasi belanja tersebut tetap perlu diimbangi dengan pengendalian defisit agar tetap sesuai batas yang ditetapkan pemerintah
