Dari Ruang Pelatihan di Ambon, Menyemai Manajer Koperasi yang Visioner
Views: 125
Catatan opini dari penugasan training calon manajer Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih
Oleh : Abdurahman Hoda (Fasiitator KDKMP Kemenkop)
Ada banyak cara untuk membangun desa. Ada yang dimulai dari jalan, jembatan, irigasi, sekolah, atau fasilitas kesehatan. Tetapi ada satu hal yang tidak kalah penting dan sering kali menjadi penentu keberlanjutan pembangunan: membangun manusia yang mampu mengelola potensi desa.
Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) lahir dengan semangat besar untuk menjadi salah satu instrumen penting dalam memperkuat ekonomi masyarakat dari tingkat paling dekat dengan rakyat. Koperasi tidak boleh hanya dipahami sebagai sebuah lembaga yang memiliki kantor, papan nama, pengurus, dan rapat anggota. Koperasi harus tumbuh sebagai institusi ekonomi yang hidup, profesional, berorientasi pada kebutuhan anggota, serta mampu menciptakan nilai tambah bagi masyarakat desa dan kelurahan.
Karena itu, ketika saya mendapat penugasan untuk memberikan training kepada calon manajer Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih di Satdik/Kolat XIV Bela Negara Ambon, pada tanggal 17–20 Juli 2026, saya melihat penugasan ini bukan sekadar kegiatan menyampaikan materi.

Ini adalah bagian dari sebuah proses besar: menyiapkan manusia-manusia yang akan berada di garis depan pengelolaan koperasi di desa dan kelurahan.
Di hadapan 148 peserta calon manajer KDKMP, saya mendapat kesempatan untuk menyampaikan beberapa materi penting, yaitu Perencanaan Bisnis Koperasi, Kepemimpinan Visioner dan Penumbuhan Jiwa Kewirausahaan Koperasi, serta Manajemen Risiko dan Sistem Pengendalian Internal.
Tiga tema ini, menurut saya, merupakan fondasi penting bagi masa depan koperasi.Dalam banyak pengalaman pengelolaan organisasi ekonomi, niat baik saja tidak cukup.
Koperasi dapat dibangun dengan semangat kebersamaan. Tetapi untuk berkembang, koperasi membutuhkan perencanaan yang baik. Koperasi dapat didirikan dengan idealisme. Tetapi untuk bertahan, koperasi membutuhkan manajemen yang profesional. Koperasi dapat memiliki pengurus dan anggota. Tetapi untuk tumbuh, koperasi membutuhkan kepemimpinan yang mampu melihat jauh ke depan.
Di sinilah posisi manajer koperasi menjadi sangat penting.
Manajer bukan sekadar pelaksana administrasi. Manajer bukan hanya orang yang datang ke kantor, mengisi buku kas, atau membuat laporan kegiatan. Manajer adalah penggerak operasional koperasi.
Seorang manajer koperasi harus mampu membaca potensi wilayah, memahami kebutuhan anggota, mengenali peluang usaha, menghitung risiko, membangun jejaring, mengelola sumber daya manusia, serta memastikan bahwa koperasi benar-benar memberikan manfaat ekonomi bagi anggotanya.
Dengan kata lain, manajer koperasi harus memiliki cara berpikir sebagai seorang profesional sekaligus seorang wirausahawan.
Salah satu tantangan terbesar koperasi adalah terjebak dalam rutinitas administratif.
Koperasi memiliki dokumen. Koperasi memiliki struktur organisasi. Koperasi memiliki rapat. Koperasi memiliki laporan. Namun pertanyaan yang lebih penting adalah: Apakah koperasi tersebut benar-benar menciptakan nilai ekonomi bagi anggotanya?
Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih memiliki peluang yang sangat besar untuk menjawab pertanyaan tersebut.
Setiap desa dan kelurahan memiliki potensi yang berbeda. Ada yang memiliki pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan, hasil hutan, pariwisata, perdagangan, jasa, maupun potensi sumber daya manusia. Karena itu, bisnis koperasi tidak dapat dibangun dengan pendekatan yang seragam. Koperasi harus dimulai dari pertanyaan sederhana: Apa potensi desa kita? Kemudian dilanjutkan dengan pertanyaan berikutnya: Apa masalah ekonomi yang dihadapi masyarakat? Dan akhirnya: Apa yang dapat dilakukan koperasi untuk menciptakan nilai tambah? Di sinilah pentingnya perencanaan bisnis koperasi.
Sebuah rencana bisnis bukan sekadar dokumen untuk memenuhi persyaratan. Rencana bisnis harus menjadi peta jalan yang membantu koperasi menentukan arah, memilih usaha, menghitung kebutuhan modal, memahami pasar, mengelola biaya, dan mengukur keberhasilan.
Koperasi yang baik bukan koperasi yang menjalankan semua jenis usaha. Koperasi yang baik adalah koperasi yang mampu memilih usaha yang paling sesuai dengan potensi, kebutuhan, kemampuan, dan pasar yang tersedia.
Dalam pelatihan ini, saya juga menyampaikan pentingnya kepemimpinan visioner. Koperasi membutuhkan pemimpin yang mampu melihat apa yang belum terlihat oleh orang lain. Seorang pemimpin visioner tidak hanya bertanya: “Apa yang bisa kita lakukan hari ini?”
Tetapi juga bertanya:
“Koperasi seperti apa yang ingin kita bangun lima atau sepuluh tahun ke depan?”
Visi inilah yang kemudian diterjemahkan menjadi langkah-langkah nyata.
Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih tidak boleh hanya menjadi lembaga yang sibuk dengan kegiatan hari ini. Koperasi harus memiliki keberanian untuk memikirkan masa depan.
Bagaimana koperasi meningkatkan pendapatan anggota? Bagaimana koperasi membangun jaringan pemasaran? Bagaimana produk desa dapat masuk ke pasar yang lebih luas? Bagaimana koperasi memanfaatkan teknologi digital? Bagaimana koperasi menjadi pusat kegiatan ekonomi masyarakat?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut membutuhkan pemimpin yang tidak hanya mampu mengelola rutinitas, tetapi juga mampu membangun harapan. Sebab pada akhirnya, koperasi bukan hanya tentang uang. Koperasi adalah tentang manusia. Koperasi adalah tentang bagaimana masyarakat yang secara individual memiliki keterbatasan dapat menjadi lebih kuat ketika bekerja bersama.
Karena itu, manajer koperasi perlu memiliki jiwa kewirausahaan.
Jiwa kewirausahaan koperasi berarti kemampuan untuk melihat peluang, berani mengambil keputusan, mampu berinovasi, tetapi tetap berpegang pada prinsip kehati-hatian dan kepentingan anggota.Koperasi tidak boleh hanya menunggu anggota datang.Koperasi harus mampu mencari peluang. Koperasi tidak boleh hanya menjual apa yang dimiliki. Koperasi harus mampu memahami apa yang dibutuhkan pasar.
Koperasi tidak boleh hanya menjadi tempat transaksi. Koperasi harus menjadi institusi yang menciptakan nilai tambah. Namun, jiwa kewirausahaan dalam koperasi tetap harus memiliki karakter yang berbeda dengan bisnis individual. Orientasinya bukan semata-mata keuntungan pribadi. Keberhasilan koperasi harus diukur dari seberapa besar manfaat ekonomi yang dapat diciptakan bagi anggota dan masyarakat.
Di sinilah keunikan koperasi: tumbuh bersama, berkembang bersama, dan memperoleh manfaat bersama.
