R.A. Kartini: Bukan Sekadar Surat Cinta, Tapi Riset Sosial yang Terabaikan
Views: 11
Oleh : AAHoda
Ternate, HN,- Setiap tanggal 21 April, kita sering terjebak dalam romantisme surat-surat Kartini sebagai curhatan pilu seorang pingitan. Namun, jarang ada yang menyoroti bahwa Kartini sebenarnya adalah salah satu etnografer dan kritikus kebijakan publik pertama di tanah Jawa.
Jika kita membedah pemikirannya lebih dalam, ada beberapa sisi “sunyi” yang jarang disentuh: yang pertama adalah, Diplomasi Intelegensia di Balik Dinding.
Pertama, Diplomasi Intelegensia di Balik Dinding.Banyak yang melihat korespondensi Kartini dengan Estelle Zeehandelaar atau Ny. Abendanon hanya sebagai curhat antar-sahabat. Padahal, jika dibaca dengan kacamata hari ini, itu adalah bentuk lobbying intelektual. Kartini menggunakan pena untuk memetakan sosiologi masyarakat Jawa kepada publik Eropa. Ia melakukan kritik tajam terhadap sistem kolonial justru dari jantung sistem itu sendiri. Ia tidak turun ke jalan dengan poster, ia menyusup ke dalam diskursus pemikiran penguasa.
Kedua, Melampaui Gender: Gugatan terhadap Feodalisme. Seringkali Kartini hanya “dikurung” dalam isu perempuan. Padahal, musuh utama yang ia lawan bukan cuma laki-laki, melainkan struktur feodal yang kaku. Ia mempertanyakan mengapa gelar lebih dihargai daripada kualitas otak. Pandangannya tentang pendidikan bukan hanya agar perempuan bisa bekerja, tapi agar bangsa ini (baik laki-laki maupun perempuan) bisa berpikir logis. Kartini adalah musuh bagi kemapanan yang malas berpikir.
Ketiga, Kesunyian” sebagai Laboratorium Pemikiran. Penulis lain sering mengasihani masa pingitan Kartini sebagai masa penjara. Namun, mari kita lihat dari sudut pandang lain: Pingitan adalah laboratorium intelektualnya. Tanpa distraksi dunia luar, ia melakukan literasi mendalam. Di era sekarang, di mana kita terlalu sibuk dengan kebisingan media sosial, Kartini mengajarkan bahwa perubahan besar lahir dari kedalaman berpikir dan refleksi dalam kesunyian, bukan sekadar eksistensi di permukaan.
Menghargai Kartini bukan lagi soal memakai kebaya atau menyanyi di panggung sekolah. Menghargai Kartini adalah tentang memicu kembali intelektualitas yang tajam dan berani mempertanyakan status quo. Kartini adalah pengingat bahwa senjata paling mematikan bagi sebuah penindasan bukanlah senjata api, melainkan sebuah pikiran yang terdidik.
Kartini tidak hanya berteori tentang kebebasan; ia melakukan riset lapangan terhadap potensi rakyatnya. Banyak yang lupa bahwa Kartini adalah promotor industri kreatif pertama di Indonesia. Dalam riset pribadinya, ia melihat pengukir di Belakang Gunung (Jepara) hidup dalam kemiskinan karena dieksploitasi tengkulak. Ia melakukan kurasi karya, menentukan standar kualitas, dan mencari pasar di Eropa melalui koneksinya. Emansipasi bagi Kartini adalah kemandirian ekonomi. Ia sadar bahwa harga diri bangsa (dan perempuan) tidak akan tegak selama perut masih bergantung pada belas kasihan struktur feodal atau kolonial.
Seringkali Kartini dianggap ingin membaratkan perempuan Jawa. Ini miskonsepsi besar. Dalam tulisannya, ia justru mengkritik orang Jawa yang kehilangan “Jawa-nya” setelah sekolah Belanda. Ia mempelajari pola asuh Barat hanya sebagai alat (tool), namun ia bersikeras bahwa akar pendidikan harus tetap berpijak pada nilai lokal. Emansipasi menurutnya adalah filter intelektual. Ia ingin perempuan Jawa menjadi modern secara otak (rasional), namun tetap memiliki identitas budaya yang kuat. Ia menolak peniruan buta (mimikri) terhadap budaya Barat.
Kartini melakukan riset personal tentang bagaimana teks-teks agama dan tradisi sering kali disalahgunakan oleh kaum elit untuk melanggengkan kekuasaan. Ia mempertanyakan mengapa kitab suci hanya dibaca tanpa dipahami maknanya (saat itu belum banyak terjemahan bahasa Jawa/Melayu).Emansipasi adalah literasi spiritual. Ia ingin perempuan bisa membaca dan menafsirkan kebenaran sendiri, sehingga tidak mudah dimanipulasi oleh dogma yang sengaja diciptakan untuk membatasi ruang gerak mereka.
